Senin, 20 Februari 2012

Majlis Rosulullah SAW

Dalam menyebutkan nasab yang mulia dan kesucian nenek moyang beliau SAW

Nasabnya SAW :
Beliau adalah Abu al-Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ad bin Luay bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.
Inilah yang disepakati dalam nasab Nabi SAW, Sebagaimana mereka juga sepakat bahwa ‘Adnan berasal dari keturunan Nabi Ismail AS.
Nama-namanya SAW :
Dari Jubair bin Muth’im RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ لِي أَسْمَاءَ: أَنَا مُحَمَّدٌ, وَأَنَا أَحْمَدُ, وَأَنَا اْلمَاحِي الَّذِي يَمْحُو اللهُ بِي الْكُفْرَ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمَيَّ وَأَنَا اْلعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ أَحَدٌ 

“Sesungguhnya aku mempunyai beberapa nama: aku adalah Muhammad, Ahmad, al-Mahi yang Allah SWT menghapuskan kekafiran denganku, aku adalah al-
Hasyir yang manusia digiring di atas kedua telapak tanganku, dan aku adalah al-‘Aqib yang tidak ada seorangpun (dari nabi) setelah aku.’ (Muttafaqun ‘alaih)

Kesucian nenek moyang Rasulullah SAW :
Ini termasuk yang tidak memerlukan dalil. Maka sesungguhnya Nabi SAW yang terpilih berasal dari Bani Hasyim dan keluarga besar suku Quraisy. Maka beliau bangsa arab yang paling mulia secara nasab. Beliau berasal dari kota Makkah, kota yang paling dicintai oleh Allah SWT. Firman Allah SWT:

ألله أعلم حيث يجعل رسالته

Allah SWT mengetahui di mana Dia SWT menjadikan risalah-Nya.
Abu Sufyan RA mengakui –dan hal itu sebelum ia masuk Islam- terhadap tingginya nasab Nabi SAW dan kemuliannya, dan peristiwa itu terjadi saat ia ditanya oleh Heraklius tentang nasabnya, maka Abu Sufyan RA menjawab: 'Dia pada kami termasuk yang mempunyai nasab. Heraklius berkata: 'Demikian pula 

para rasul, diutus pada nasab kaumnya. (Muttafaqun ‘alaih).
Dan Nabi SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ عز وجل اصْطَفَى مِنْ وَلَدِ إِبْرَاهِيْمَ إِسْمَاعِيْلَ, وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي إِسْمَاعِيْلَ كِنَانَةَ, وَاصْطَفَى مِنْ بَنِي كِنَانَةَ قُرَيْشًا, وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ, وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

“Sesungguhnya Allah SWT memilih Nabi Ismail AS dari keturunan Nabi Ibrahim AS, dan Dia SWT memilih Kinanah dari keturunan Nabi Ismail AS, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari Bani Hasyim. (HR. Muslim)
Dan di antara kesucian nasabnya SAW, sesungguhnya Allah SWT telah memelihara kedua orang tuanya dari perbuatan zina. Maka beliau dilahirkan dari pernikahan yang sah dan bukan terlahir dari perzinahan. Sebagaimana sabda Nabi SAW:

خَرَجْتُ مِنْ نِكَاحٍ وَلَمْ أَخْرُجْ مِنْ سِفَاحٍ مِنْ لَدُنْ آدَمَ إِلَى أَنْ وَلَدَنِي أَبِي وَأُمِّي

“Aku terlahir dari pernikahan dan tidak keluar dari hasil perzinahan, dari sejak Nabi Adam AS hingga ayah dan ibuku melahirkan aku, dan tidak sedikitpun menimpaku dari perzinahan jahiliyah.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath dan di hasankan oleh Syaikh al-Albani).
Dan beliau juga bersabda:

خَرَجْتُ مِنْ لَدُنْ آدَمَ مِنْ نِكَاحٍ غَيْرَ سِفَاحٍ

‘Aku keluar dari sejak Nabi Adam AS dari pernikahan, bukan dari perzinahan.’ HR. Ibnu Sa’ad dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani.
Ibnu Sa’ad dan Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari al-Kalbi rahimahullah, ia berkata, ‘Aku menulis bagi Nabi SAW lima ratus (500) ibu, maka aku tidak menemukan perzinahan pada mereka, dan tidak pula sesuatu dari perkara jahiliyah.
Perkataannya: ‘lima ratus’ maksudnya semua nenek moyangnya dari pihak bapak dan ibunya.
Penyair berkata:
Dari sejak zaman Nabi Adam AS senantiasa menjaga baginya
Sulbi dan rahim dalam keturunannya

Sehinga berpindah dalam pernikahan yang suci
Tidak terkumpul padanya yang haram
Maka nampak bagaikan bulan purnama yang sempurna di malam hari
Selama menampakkan cahayanya yang menerangi maka ia menjadi sempurna
Maka tersingkaplah kegelapan dari cahayanya
Dan cahaya membuat kegelapan tidak terlihat lagi
Terima kasih kepada yang memberikan nikmat kepada kami
Awhaam tidak lagi meliputi hakekatnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tafaddolu